Hiburan yang diperuntukkan kaum elite bersifat hiburan modern yang disajikan secara terkonsep

Perang Simbol Penguasa di Dunia Hiburan


Elemen utama yang sangat menentukan dalam sebuah hiburan ada dua, yakni penonton dan konten acara. Berdasarkan penonton hiburan terbagi menjadi dua yaitu hiburan untuk kaum elite dan hiburan untuk rakyat biasa. Penonton hiburan yang diperuntukkan bagi rakyat biasa bersifat pasif, dalam hal ini penonton tidak melakukan interaksi sehingga penonton hanya menjadi penikmat hiburan yang penuh akan filosofi. Hiburan yang diperuntukkan kaum elite bersifat hiburan modern yang disajikan secara terkonsep, sehingga penonton lebih banyak melakukan interaksi. Hal itu berpengaruh pada tingkat apresiasi terhadap sebuah karya seni, semakin tinggi status sosial dan ekonomi seseorang maka semakin tinggi pula apresiasinya terhadap karya seni. Contohnya hiburan soos diminati oleh kaum elite yang kebanyakan memiliki status sosial ekonomi tinggi.
Dampak semakin berkembangnya hiburan di Surakarta pada awal abad XX adalah berkembangnya tata ruang kota yang berpengaruh pada pergeseran identitas Surakarta sebagai kota budaya. Pada awalnya, yang sudah ada di Surakarta bersifat sakral dan penuh filosofi, namun setelah kedatangan kaum elite yang membawa semangat modernitas berupa hiburan-hiburan modern menyebabkan persaingan simbol gaya hidup perkotaan antara elite dan pribumi. Contohnya ciu dan bir jawa yang menyaingi wine, genewer, dan gin. Keberadaan soos Harmonie yang menjadi tempat berkumpulnya para kaum elite kulit putih dengan hiburan modern seperti dansa, orkestra, dan band mendapat saingan dengan soos Abipraya yang menjadi tempat berkumpulnya kaum pribumi dengan hiburan tradisional seperti pertunjukan wayang dan musik gamelan.

Semakin banyak tempat hiburan yang berkembang di Surakarta pada awal abad XX

mengindikasikan bahwa tingkat sosial ekonomi masyarakat Surakarta yang sudah semakin tinggi, sehingga berimplikasi pada munculnya budaya konsumerisme masyarakat perkotaan. Susanto dalam Solo Kota Plesiran 1870 – 1942 (Sebuah Kajian Tourist System Pada Masa Kolonial)menyatakan hal ini dianggap sebagai peluang oleh komunitas asing untuk membuka komplek pertokoan dan hotel atau penginapan. Antara lain pertokoan yang telah ada di Surakarta yakni Toko Daging Kemasan “Parmesan”, Toko Keju “Edam”, Toko Pakaian bagi militer maupun sipil, Toko Lobato, Toko Ahli Membuat Jam “Fritchi”.
Pengaruh besar terhadap masyarakat atas hiburan modern ditunjukkan dengan adanya perubahan gaya hidup. Gaya hidup hedonis membutakan masyarakat pribumi untuk menjiplak perilaku masyarakat kaum elite Eropa dengan dalih mengikuti perkembangan zaman yang didominasi oleh budaya populer. Hal ini menyebabkan pemerintah kolonial mengeluarkan larangan bagi pribumi yang meniru gaya orang Eropa agar pemerintah kolonial tetap dapat melakukan politik diskriminasi rasial. Di sisi lain masyarakat pribumi mendirikan soos Abipraya dengan menerapkan konsep hiburan tradisional agar tetap dapat meniru gaya orang Eropa. Soos Abipraya adalah tempat untuk berkumpulnya para kaum priyayi Kasunanan untuk menghabiskan waktu luang dengan menikmati hiburan berupa pertunjukkan wayang dan alunan musik gamelan. Hal ini bertolak belakang dengan soos Harmonie yang lebih menerapkan konsep hiburan-hiburan modern seperti berdansa, minum minuman keras sambil menikmati alunan musik-musik klasik khas Eropa.

Perang simbol antara kaum elite Eropa dengan kaum pribumi ini menunjukkan adanya stratifikasi hiburan yang berkembang di Surakarta pada awal abad XX. Akibat lain dari adanya hiburan modern ini adalah menurunnya antusias masyarakat terhadap hiburan tradisional. Hiburan-hiburan sakral dan penuh filosofi tergerus oleh gebrakan hiburan modern yang populer.

SUmber: https://digitalcamera.co.id/