Landasan Syariah dan Landasan Hukum Murabahah

Landasan Syariah dan Landasan Hukum Murabahah

Landasan Syariah dan Landasan Hukum Murabahah

 

Akad murabahah merupakan salah satu akad yang digunakan dalam pembiayaan di bank syariah yang pasti terdapat landasan hukumnya secara syariah yakni al-Qur’an dan Hadist. Berikut adalah ayat yang menerangkan tentang murabahah:

وَأَحَلَ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَوأ

“…Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…”

Berikut adalah hadist yang menerangkan tentang murabahah :

Dari Suhaib ar-Rumi r.a bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual.” (HR Ibnu Majah)

Sementara itu, bai’ al Murabahah juga diatur secra hukum sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku. Pembiayaan murabahah mendapatkan pengaturan dalam Pasal 1 angka 13 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Ketentua secara teknis dapat dijumpai dalam Pasal 36 huruf b PBI No. 6/24/PBI/2004 tentang Bank Umum yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasrkan Prinsip Syariah, yang intinya menyatakan bahwa bank wajib menerapkan prinsip syariah dan prinsip kehati-hatian dalam kegiatan usahanya yang meliputi penyaluran dana melalui prinsip jual beli berdasrkan akad murabahah.

Di samping itu Pembiayaan Murabahah yang juga diatur dalam Fatwa DSN No. 04/DSN-MUI/IV/2000 pada tanggal 1 April 2000 yang  intinya menyatakan bahwa dalam rangka membantu masyarakat guna melangsungkan dan meningkatkan kesejahteraan dan berbagai kegiatan, bank syariah perlu memiliki fasilitas murabahah bagi yang memerlukan, yaitu menjual suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembayarnya dalam harga yang lebih sebagai laba.[13]

  1. Syarat Ba’i al-Murabahah

Berikut adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi apabila melakukan transaksi murabahah adalah sebagai berikut:

  1. Penjual memberi tahu biaya modal kepada nasabah.
  2. Kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang ditetapkan.
  3. Kontrak harus bebas dari riba.
  4. Penjual harusmenjelaskan kepada pembeli apabila terjadi cacat atas barang sesudah pembelian.
  5. Penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian.[14]
  6. Manfaat Bai’ al-Murabahah

Dalam pelaksanaannya akad ini memberikan beberpa manfaat bagi pihak bank syariah yakni dari selisih harga pokok dengan harga jual. Sementara bagi nasabah keuntungan yang dapat diperoleh yakni mendapatkan pembiayaan dengan harga jual yang sama meskipun tempo atau jangka waktunya berbeda sesuai dengan kesepakatan bersama.

Selain adanya manfaat juga ada risiko yakni, default atau kelalaian, fluktuasi harga komparatif, penolakan nasabah, barang dijual.

Landasan Syariah dan Landasan Hukum Murabahah

Sumber :

https://callcenters.id/