Menikmati Episode Jadi Bawahan

Menikmati Episode Jadi Bawahan

Menikmati Episode Jadi Bawahan

Menikmati Episode Jadi Bawahan

Menikmati Episode Jadi Bawahan

Bawahan, diartikan sebagai orang (pegawai) rendahan; orang yang dibawah perintah. Jadi, setiap kita pada dasarnya adalah sebagai bawahan. Penggalan kisah berikut, kiranya dapat mendukung hal ini. Yakni Abu Muslim Al Khaulani pernah menghadap Mu’awiyah dan berkata kepadanya: “Assalamu’alaikum, wahai karyawan.” Orang-orang di sekitar Mu’awiyah menyangkalnya: “Katakan kepada beliau, ‘Wahai Amir (kepala negara)'”

Namun, untuk kedua dan ketiga kalinya Abu Muslim masih tetap mengulang ucapan salamnya seperti semula. Baru setelah itu ia menjelaskan kepada Mu’awiyah: “Sesungguhnya Anda (Amirul Mu’minin) adalah seorang karyawan -bawahan–, Tuhan pemilik umat ini telah memperkejakan Anda. Jika Anda dapat mengobati penyakit umat secara total, maka Tuhan Anda menjanjikan upah bagi Anda, namun jika Anda tidak melaksanakannya, maka Dia akan menyiksa Anda.

Sehingga, bagaimana sebaiknya kita harus berperilaku dalam menikmati episode jadi bawahan dalam kehidupan ini. Yakni kehidupan yang selalu berada dibawah koridor perintah dan larangan Allah Azza wa Jalla. Termasuk didalamnya, berupa aktualisasi menjadi bawahan dalam hubungan suatu pekerjaan amaliyah sesama manusia.

Setiap kita -orang beriman–, sudah seharusnya selalu menikmati episode jadi bawahan ini sebagai sesuatu yang insya Allah merupakan amal saleh. Sehingga kita harus menyempurnakan setiap tanggung jawab dan kewajibannya secara ikhlas hanya mengharap ridha-Nya. Dan balasan dari amal saleh yang dilakukan oleh orang-orang beriman ini, cukup fantastis, yaitu berkuasa di bumi. Allah berfirman dalam QS.An Nuur: 55, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sesungguhnya akan menjadikan mereka berkuasa di bumi ….”

Dari sini, tugas kita dalam menikmati episode jadi bawahan ialah menyempurnakan ikhitar terhadap perintah-perintah yang dibebankan kepada kita. Lagian, bukankah Allah akan membalas setiap apa yang diperbuat makhluk-Nya. Hal ini seperti yang dijanjikan-Nya dalam QS Al Ahqaaf: 19, “Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.” Dalam hal ini, bila kita tulus melakukannya (baca: bening hati), maka hasilnya justru akan mengundang banyak kenikmatan. Betapa tidak? Sebagai contoh, betapa nikmatnya mendapat (ilmu) perbaikan, jika kita khilaf dalam melakukan perintah dari atasan kita; bagaimana kita dapat memperoleh ilmu cara memimpin yang baik dari hubungan antara atasan dan bawahan ini; dan berbagai keuntungan lainnya.

Kisah yang terjadi pada masa Umar bin Khattab berikut ini, membuktikan betapa kita harus menikmati jadi bawahan dengan mempersiapkannya dengan fisik kuat dan sifat dapat dipercaya. Kisahnya, suatu waktu, Umar bin Khattab pernah mempekerjakan Abdullah bin Qais di pantai-pantai, sementara beliau tidak melibatkan tenaga Syarhabil untuk pekerjaan ini. Syarhabil bertanya: “Adakah suatu kemarahan yang menyebabkan engkau tidak lagi membutuhkan tenagaku, wahai Amirul Mukminin?” Umar menjawab: “Tidak, sesungguhnya aku mencintai kamu berdua, akan tetapi aku menginginkan seorang laki-laki yang lebih kuat.” Syarhabil menjawab: “Kalau begitu, izinkan kami menjelaskannya kepada semua orang agar tidak ada suara-suara negatif terhadap kami.” Umar segera bangkit dan memberitahukan kepada mereka: “Wahai sekalian orang. Demi Allah, sesungguhnya saya tidak menggunakan tenaga Syarhabil bukan karena suatu kemarahan, melainkan kami menginginkan seseorang yang lebih kuat daripadanya.”

Sumber : https://bingkis.co.id/tsuro-apk/