Kepelayanan adalah

Kepelayanan adalah

Table of Contents

Kepelayanan adalah

Kepelayanan adalah

Kepelayanan adalah

“Kepelayanan bukanlah soal posisi atau ketrampilan, melainkan soal sikap” (Maxwell.2001:190). Pemimpin yang sejati adalah pemimpin yang melayani kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri. Pemimpin akan sengaja mencari tahu akan kebutuhan orang lain serta dengan sengaja menawarkan diri untuk membantu dengan dasar kasih yang menganggap bahwa kepentingan orang lain itu penting.
Pemimpin-pemimpin besar lebih melihat kebutuhan orang lain lalu mengambil kesempatan itu dan melayani tanpa mengharapkan balasannya. Ketika pemimpin melayani, pemimpin tidak memfokuskan diri pada pangkat atau posisinya, tapi justru posisinya sebagai pemimpin itulah yang memberinya rasa tanggungjawab yang besar untuk melayani. Pelayanan tidak bermotifkan promosi diri, melainkan di dorong oleh kasih, dan pengaruh seorang pemimpin tergantung pada seberapa dalam pemimpin mementingkan orang lain. Memang benar bahwa setiap orang yang ingin menjadi besar harus menjadi yang terkecil dan melayani yang lainnya, jika seorang ingin memimpin di tingkatan tertinggi maka harus bersedia untuk melayani di tingkatan yang terendah (Maxwell.2001:195) . Dari uraian di atas dapat dilihat kepelayanan adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kepemimpinan, karena arti lain dari kepemimpinan juga adalah pelayanan, secara tidak langsung orang yang ingin menjadi besar harus memperhatikan orang yang lebih kecil dan melayaninya.

9 Tanggungjawab
Dalam suatu kesuksesan pasti ditemukan adanya tanggung jawab yang harus dipikul oleh seseorang untuk mencapainya. Para pemimpin yang baik, pasti sadar bahwa siapa dan di mana pemimpin berada adalah tetap harus memiliki tanggungjawab. Pemimpin menghadapi kenyataan hidup apapun dan mengerahkan kemampuan yang terbaik untuk mencapai sukses (Maxwell.2001:160).
“Tak seorangpun dapat melakukan yang minimum dan mencapai potensi yang maksimum” (Maxwell.2001:161). Untuk itu pemimpin yang bertanggung jawab pasti melaksanakan tugasnya dengan bekerja keras, dan untuk membangun kredibilitasnya maka pemimpin membayangkan dirinya bekerja untuk diri sendiri supaya dapat mencapai lebih banyak.
Pemimpin yang bertanggung jawab bersedia melakukan apapun yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan yang dibutuhkan oleh organisasi tanpa pernah memprotes bahwa itu bukan tugasnya. Dalam melaksanakan tugasnya, pemimpin didorong oleh hasrat untuk mencapai kesempurnaan sehingga pemimpin bekerja keras dan bertanggung jawab untuk mencapainya dan menyelesaikan tugas tersebut dengan efektif (Maxwell.2001:162).
Jadi tanggung jawab harus dimiliki oleh seorang pemimpin karena dengan karakter demikian pemimpin dapat melakukan tugas-tugasnya untuk mencapai tujuannya.

10 Disiplin Diri
“Tak seorangpun dapat mencapai dan mempertahankan sukses tanpa disiplin diri yang luar biasa” (Maxwell.2001:180). Seorang pemimpin juga tidak dapat mencapai potensi yang maksimal jika harus mengerjakan apa yang harus dikerjakan hanya jika ia bersemangat, melainkan perlu ada disiplin diri. Inti dari disiplin diri adalah menentukan apa yang benar-benar menjadi prioritas dan kemudian menindaklanjuti hal yang penting tersebut. Disiplin diri tidak dapat hanya dijadikan sesaat, tetapi disiplin diri harus menjadi gaya hidup dari seorang pemimpin dan mengembangkan sistem secara rutinitas, terutama di
berbagai bidang yang penting bagi pertumbuhan serta sukses jangka panjang (Maxwell.2001:181). Seringkali yang membuat seseorang tidak dapat berdisiplin diri adalah karena kecenderungan untuk mencari alasan supaya tidak disiplin, untuk itu seseorang harus dapat menantang dan menghapus kecenderungan untuk mencari alasan. Seorang pemimpin yang memiliki disiplin diri membuat orang lain akan menghormatinya dan mengikutnya. Kedisiplinan merupakan salah satu kriteria untuk menjadi sukses karena arti kedisiplinan sendiri melakukan sesuatu hal secara teratur dan konsisten untuk mencapai tujuan.

11 Hubungan Yang Baik
Sebelum seorang pemimpin minta tolong kepada bawahannya, pemimpin yang efektif tahu bahwa pemimpin harus menyentuh hatinya terlebih dahulu. Namun perlu diingat bahwa sebelum pemimpin dapat menyentuh hati seseorang pemimpin harus mengetahui ada apa di dalam hati orang tersebut (Maxwell.2001:110). Membina hubungan dengan orang lain tidak hanya terjadi jika seorang pemimpin sedang berkomunikasi dengan sekelompok orang, melainkan secara individual jika hubungan dan komunikasi antar individu itu kuat, maka para pengikut dengan tulus ingin menolong sang pemimpin untuk mencapai tujuannya.
Dari membina hubungan dengan orang lain serta memperlihatkan ketulusan dalam membantu orang lain, maka akan mengembangkan kredibilitas seorang pemimpin. Menjalin hubungan yang baik dimulai dari inisiatif pemimpin dan bukan tanggungjawab bawahan. Jika hubungan yang baik telah terjalin maka akan muncul loyalitas yang luar biasa serta etika kerja yang kuat. Dari uraian diatas dapat disimpulkan dengan memiliki hubungan yang baik dengan para bawahan yaitu dengan menyentuh hati mereka dan mendengarkan mereka dapat menciptakan bawahan yang loyal sehingga komitmen dapat timbul dengan sendirinya dan keuntungan bagi pemimpin dapat menjalin hubungan dengan orang lain serta belajar.

Baca Juga :