Pengamat: Pengganti UN Jangan Cuma Beda Nama

Pengamat Pengganti UN Jangan Cuma Beda Nama

Pengamat: Pengganti UN Jangan Cuma Beda Nama

Pengamat Pengganti UN Jangan Cuma Beda Nama

Pengamat Pengganti UN Jangan Cuma Beda Nama

Pemerintah menilai pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tidak terlalu bermanfaat saat ini.

Untuk itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana untuk menghapus UN dan menggantinya dengan skema baru untuk mengukur kompetensi siswa yang dinamai asesmen kompetensi siswa Indonesia (AKSI).

Kepada Beritasatu di Jakarta, Selasa (12/3), pengamat pendidikan, Indra Charismiadji mengatakan bahwa apabila UN diganti dengan AKSI tetapi tujuannya sama-sama sebagai pemetaan, artinya pemerintah hanya mengganti nama saja. Menurut Indra, skema penilaian kemampuan siswa mengunakan tes atau nilai tidak cocok diterapkan pada era Revolusi Industri 4.0 ini.

Skema evaluasi yang tepat untuk menilai kemampuan anak pada era 4.0 ini,

lanjutnya, adalah skema deskripsi. Sebab, nilai dianggap tidak konsisten karena meskipun sama-sama mendapat nilai delapan, tetapi belum tentu memiliki tingkat kecerdasan yang sama.

Oleh karena itu, ia mengharapkan pemerintah mengeluarkan kebijakan yang relevan dengan kebutuhan dan perubahan zaman, bukan sekadar ganti nama.

“AKSI mau digunakan untuk apa? Pelaksanaan UN saat ini sudah tidak cocok karena tes yang dilakukan selama ini tidak mencerdaskan, tetapi membodohkan. Dengan adanya tes, siswa berupaya untuk menghafal soal dan bagaimana cara menjawabnya sehingga meskipun nilainya bagus, tetapi kemampuannya tidak sama,” kata Indra.

Seperti diketahui, fungsi UN saat ini hanya untuk pemetaan karena UN

tidak lagi dijadikan sebagai standar kelulusan siswa. Selain itu, dengan adanya skema zonasi untuk penerimaan peserta didik baru (PPDB), UN juga tidak dijadikan sebagai penentu masuk jenjang pendidikan selanjutnya. Bahkan, kabar terakhir, panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN) juga memutuskan untuk tidak menjadikan UN sebagai salah satu persyaratan masuk perguruan tinggi.

 

Sumber :

https://mhs.blog.ui.ac.id/lili.ariyanti/2018/08/12/sejarah-masjid-agung-sang-cipta-rasa/