Jabar Siapkan Desa Digital

Jabar Siapkan Desa Digital

Jabar Siapkan Desa Digital

Jabar Siapkan Desa Digital

Jabar Siapkan Desa Digital

Peternak lele di desa saban hari melakukan aktivitas yang sama,

yakni memberi pakan ikannya secara berkala yang ditakar hanya dengan raupan tangan. Sedangkan salah satu pengeluaran terbesar dalam budidaya ikan adalah pembelian pakan. Jika dilakukan secara presisi, pemberian pakan sesuai porsinya akan menekan pengeluaran, sekaligus meningkatkan kualitas dan kuantitas panen.

Hal tersebut diceritakan oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil saat membahas penyiapan Desa Digitial di Jawa Barat, Kamis (3/1/2019) di Gedung Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (P4TK IPA), Jalan Dipenogoro nomor 12, Kota Bandung. Gubernur bercerita tentang Peternak Lele yang ia temui di Indramayu dan terinspirasi untuk mengkolaborasikan kemajuan teknologi dengan proses beternak di desa, salah satunya melalui aplikasi.

“Raupan tangan peternak saat memberi pakan kan gak ada takarannya

, sesuai mood, jadi tidak dapat mengetahui secara rinci berapa banyak seharusnya pakan di berikan. Dari sana, telah kita buat aplikasi e-fishery, jadi peternak tinggal tekan tombol saja, dan jumlah pakan yang diberikan sudah terukur sesuai dengan kebutuhan,” ucapnya.

Pemanfaatan aplikasi untuk kebutuhan masyarakat desa adalah salah satu contoh proses digitalisasi desa. Gubernur berujar, sebagai provinsi yang telah berdeklarasi menjadi provinsi digital, desa adalah lapisan yang harus pertama disentuh oleh pemerintah. “Peran negara jelas harus turun dan membantu kepada kelompok masyarakat yang belum punya daya upaya, maka dari itu, kita mendorong dan memberi pelayanan terhadap masyarakat yang berada desa,” tambahnya.

Gubernur pun telah membuat cetak biru tentang aspek harus dimiliki oleh desa digital.

Aspek-aspek tersebut antara lain memiliki aplikasi untuk melakukan layanan publik serta penunjang aktivitas dalam bermata pencaharian, setiap desa harus memiliki akun media sosial guna memberikan informasi sekaligus ruang komunikasi dengan warga, mulai berbisnis cia sigital, memiliki grup komunikasi antara kepala desa di tiap kecamatan dan memiliki command center di setiap desa.

Salah satu program yang suda diluncurkan oleh Provinsi Jawa Barat dalam proses penyiapan desa digital adalah One Village One Company (OVOC) yakni setiap desa disiapkan untuk memiliki satu perusahaan yang hasilnya dapat menghidupi kebutuhan warga desa tersebut.

“Ini bisa membuat desa lebih mandiri, jadi meski berbisnis di desa, penghasilannya mampu setara dengan di kota, di era revolusi digital, letak geografis tidak lagi menjadi penting, selama memiliki skill digital,” pungkasnya.***

 

Baca Juga :