Tekan Bullying, Saatnya Kembangkan Sekolah Ramah Anak

Tekan Bullying, Saatnya Kembangkan Sekolah Ramah Anak

Tekan Bullying, Saatnya Kembangkan Sekolah Ramah Anak

Tekan Bullying, Saatnya Kembangkan Sekolah Ramah Anak

Tekan Bullying, Saatnya Kembangkan Sekolah Ramah Anak

Kasus perundungan (bullying) dengan panggilan Ahok yang dialami

salah seorang siswa SDN di Jakarta Timur belakangan ini menambah sederetan tindak kekerasan di lingkungan sekolah.

Sekretaris Menteri PPPA Pribudiarta Nur Sitepu mengatakan, saat ini pihaknya sudah memiliki strategi nasional penghapusan Kekerasan Terhadap Anak (KTA). Program itu untuk mengatasi bullying serta kekerasan yang dilakukan oleh tenaga pendidik. Metode konkretnya dengan berbagai kegiatan.

“Antara lain, pengembangan Model Sekolah Ramah Anak untuk mendorong

terwujudnya iklim positif di sekolah yang bebas dari kekerasan,” kata Pri saat dihubungi JawaPos.com, Kamis (2/11).
Bullying, kekerasan sekolah
Siswa SD saat berkegiatan di luar kelas (Dery Ridwansyah/ Jawa Pos)

Selain itu, penerapan disiplin positif yang terintegrasi dengan pencegahan bullying di sekolah. Menurut dia, Kementerian PPPA telah membuat model di empat SMP Jawa Tengah. Yaitu, di Kota Semarang dan Kabupaten Klaten.

“Disiplin positif merupakan pendekatan paedagogi (strategi mengajar) yang didasarkan pada kekuatan tindakan positif, rasa tanggung jawab (konsekuensi), pemahaman (logis), dialog, serta penghargaan terhadap hak dan kebutuhan perkembangan anak,” papar Pri.

Kemudian, peningkatan peran serta anak dalam mencegah kekerasan yang rentan

terjadi pada diri anak. Sehingga anak mampu melaporkan apabila terjadi perundungan di lingkungannya. Kemudian dengan mengajak siswa untuk terlibat dalam upaya pencegahan.

“Dan yang tidak kalah pentingnya adalah keterlibatan sekolah dalam menciptakan suasana yang menyenangkan di lingkungan sekolah,” ujarnya.

Pri menambahkan, sekolah juga mesti memberikan kegiatan-kegiatan yang mendukung kreativitas anak dalam mengelola energi yang dimilikinya menjadi hal yang positif.

Tak hanya itu, peningkatan peran serta masyarakat juga diperlukan melalui gerakan perlindungan anak terpadu berbasis masyarakat. “Kalau di lingkungan pendidikan dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, komite sekolah, penjaga sekolah, petugas kantin, dan satpam sekolah,” pungkasnya.

 

Baca Juga :