Akar dari Konflik

Akar dari Konflik

Akar dari Konflik

Akar dari Konflik

Akar dari Konflik

Akar Politik Menurut Witteman

Menurut Witteman, kebanyakan orang memilih untuk menghindari situasi yang penuh dengan konflik (dalam Forsyth, 1999), namun konflik itu adalah konsekuensi yang tidak dapat dihindari dalam suatu kelompok. Berikut ini adalah beberapa penyebab munculnya suatu konflik.

 

Ketidakpuasan dan Ketidaksetujuan

Guetzkow & Gyr menjelaskan bahwa konflik personal sering juga disebut dengan konflik afektif, konflik kepribadian, atau konflik emosional yang merupakan akar masalah dari individu yang juga berdampak pada anggota kelompok lain. Pribadi menyukai atau tidak menyukai, tidak selalu diartikan menjadi konflik kelompok, tetapi orang sering menyebutnya dengan ketidakpuasan terhadap anggota kelompok yang lain ketika mereka protes pada kelompok mereka. Jadi, personal conflict adalah perselisihan interpersonal yang terjadi ketika anggota kelompok tidak menyukai anggota lain.

Banyak faktor yang menjadikan ketidakpuasan sebagai peningkatan konflik.

  1. Orang biasanya menjelaskan masalah mereka dengan menyalahkan orang lain sebagai seseorang yang memiliki pribadi yang berkualitas negatif, pemurung, kompulsif, tidak berkompeten, kesulitan dalam berkomunikasi, dan ceroboh.

Misalnya, ada seorang kelompok yang membuat suatu kesalahan, namun dia tidak mengakui kesalahannya dan malah mengkambing hitamkan anggota lain yang mungkin tidak disukainya. Ini akan menimbulkan konflik, di mana ada pihak yang merasa dirugikan.

  1.  Orang biasanya tidak menyukai yang lain, akan mengevaluasi mereka secara negatif, mengkritik bahkan ketika sudah pantas dapat menimbulkan konflik.

Misalnya, orang akan cenderung menilai buruk orang yang menjadi saingannya atau orang yang pernah menyakitinya, sekalipun sebenaranya orang tersebut sudah bersikap baik. Apabila pihak yang dianggap buruk ini tidak terima, maka dapat memunculkan konflik.

  1. Anggota kelompok yang biasanya memperlakukan yang lain dengan tidak adil atau tidak sopan juga dapat menimbulkan konflik.

Misalnya, suatu anggota yang seringkali diperlakukan semena-mena lama kelamaan juga akan timbul rasa tidak terima, timbulah aksi protes yang nantinya akan menimbulkan suatu konflik dalam kelompok.

  1. Kelompok yang memiliki lebih besar keragaman lebih banyak menimbulkan konflik daripada yang homogen.

Misalnya, kelompok yang anggotanya terdiri dari berbagai macam suku budaya yang berbeda mempunyai pandangan-pandangan sendiri yang satu sama lainnya berbeda, ini akan lebih banyak menyebabkan konflik karena akan sering kali terjadi perbedaan pendapat yang mungkin akan lebih banyak menimbulkan perdebatan.

 

Substantive Conflict

Substantive conflict adalah ketidaksetujuan atas masalah yang relevan dengan tujuan kelompok dan hasilnya. Ini terjadi ketika orang sedang mendiskusikan masalah dan tujuan mereka, kadang terjadilah ketidaksetujuan analisis satu dengan yang lain.  Hal ini sebenarnya terkait dengan kelompok kerja, di mana kelompok dan organisasi menggunakannya untuk membuat rancangan, meningkatkan kreatifitas, menyelesaikan masalah, memutuskan  masalah, menyelesaikan konflik dari sudut pandang. Konflik substantif membantu kelompok untuk mencapai tujuan mereka, mengubah konflik yang bersifat pribadi  menjadi personal conflict.

Sumber : https://topsitenet.com/article/213042-chemical-periodic-table-system/