MODEL KURIKULUM BAHASA ASING MASA DEPAN

MODEL KURIKULUM BAHASA ASING MASA DEPAN

MODEL KURIKULUM BAHASA ASING MASA DEPAN

MODEL KURIKULUM BAHASA ASING MASA DEPAN

Pendekatan

Kurikulum dapat dikembangkan dengan berbagai metode dan pendekatan selaras dengan filosofis, tujuan, masalah, dan kebutuhan pendidikan yang ada pada suatu negara. Clark (1987: 99) mengemukakan tiga pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembaharuan kurikulum.

Pertama, humanisme klasik. Pendekatan ini mengembangkan kurikulum secara atas – bawah (top – down) yang dilakukan oleh dua pihak: sejumlah pakar dari lembaga pendidikan tinggi dan para pemegang kebijakan yang memiliki otoritas dalam bidang kurikulum. Produk inovatif dari pendekatan ini berupa silabus baru (dalam konteks ini silabus identik dengan kurikulum) yang telah teruji kesahihannya dan diwujudkan dalam bahan pelajaran sebagai materi penataran dan pendidikan tahunan.

 

Kedua, rekonstruksionisme. Pendekatan ini pun mengembangkan kurikulum secara atas-bawah (top-down) yang dilakukan oleh tim pakar dari luar yang ditentukan oleh pemerintah. Tim ini menyusun kebijakan kurikuler selaras dengan rambu-rambu yang ada dengan memfokuskan perhatiannya pada riset, perkembangan, dan difusi. Produk dari pengembangannya ialah kebijakan atau paket kurikulum baru.

Ketiga, progresivisme. Pendekatan ini mengadakan pengembangan secara bawah-atas (bottom-up) yang dilakukan para guru dan dibantu oleh pakar. Produk dari pembaharuan ini berupa perbaikan-perbaikan bersekala kecil yang merupakan bagian dari kurikulum. Perbaikan ini merupakan bahan lokakarya di daerah.

Di samping itu, Nunan (1988:21-22) memandang bahwa kurikulum pun dapat dikembangkan berdasarkan kadar atau tingkat perkembangan yang terjadi di tingkat lokal. Jika dikembangkan dari sudut pandang ini, muncul berbagai bentuk kurikulum berikut ini.

Pertama, kurikulum yang tersentralisasi secara penuh (a fully centralised curriculum), yaitu kurikulum yang dikembangkan secara terpusat, kemudian disebarkan ke daerah. Pembelajar dapat mengikuti kelas-kelas bahasa tertentu sesuai dengan tingkat kompetensinya yang telah ditetapkan dalam kurikulum tersebut.

Kedua, kurikulum berbasis sekolah (school-based curriculum), yaitu kurikulum yang dikembangkan, baik sebagian atau seluruhnya, dalam lembaga pendidikan itu sendiri, sehingga ia lebih responsif terhadap kebutuhan dan minat pembelajar.

Ketiga, kurikulum yang berpusat pada subjek (subject-centred curriculum), yaitu kurikulum yang memandang bahwa pembelajar bahasa hendaknya menguasai body of knowledge bahasa.

Keempat, kurikulum yang berpusat pada pembelajar (learner-centered curriculum), yaitu kurikulum yang memandang perolehan bahasa sebagai suatu proses pemerolehan berbagai keterampilan, bukan sebagai a body of knowledge.

Pendekatan mana pun yang digunakan, hendaknya kurikulum bahasa yang dikembangkan mempertimbangkan minat, kebutuhan, dan kompetensi yang dituntut oleh dunia global saat ini. Pertimbangan tersebut ialah,

  1. Keterampilan berinteraksi sosial. Artinya siswa dapat berkomunikasi secara lisan dan tertulis dalam situasi yang beragam dengan masyarakat dari latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda.
  2. Keterampilan mengakses informasi. Maksudnya, siswa memiliki kemahiran dalam memperoleh informasi dari berbagai sumber yang berbeda dan media yang bervariasi serta mampu menggunakannya.
  3. Keterampilan presentasi. Siswa memiliki kemahiran dalam mempresentasikan informasi dan gagasan secara sistematis dalam berbagai bentuk yang bervariasi, baik secara lisan maupun tertulis, tentang berbagai topik.
  4. Apresiasi sastra. Siswa mengapresiasi sastra lisan dan tulis serta mengembangkan kepekaannya terhadap nilai-nilai budaya yang terkandung dalam karya sastra.
  5. Bahasa dan budaya. Siswa mengapresiasi karakteristik bahasa dan perbedaan antarbahasa. Keterampilan ini dikenal dengan cross-cultural understanding yang lazim disingkat CCU.

Sementara itu, lembaga lain mengemukakan tujuan pendidikan bahasa asing yang hampir sama dengan tujuan di atas, yaitu (1) memiliki kemahiran berkomunikasi dengan bangsa lain, (2) mengetahui dan memahami budaya yang terkandung dalam bahasa asing, (3) mengaitkan pengetahuan bahasa dengan disiplin ilmu lain yang relevan, (4) membandingkan dan mengkontraskan bahasa yang dipelajarinya dengan bahasa lain, dan (5) merangkum keempat kemampuan tersebut, sehingga dia merasa nyaman menjadi warga dunia (National Standard in Foreign Language Education, 2000:2).

Karena itu, pendidikan bahasa perlu dilakukan dengan berbasis pada standar tertentu. Standar ini merumuskan apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa dari daerah mana saja, pada berbagai tingkat performansi tertentu, dalam berbagai keterampilan berbahasa, termasuk keterampilan berbudaya.

B. Pengorganisasian Materi Pembelajaran Bahasa Asing

Seperti telah dikemukakan sebelumnya, bahwa pada masa depan hendaknya kurikulum bahasa asing dikembangkan dengan berorientasi pada penguasaan kompetensi yang baku, kebutuhan siswa, kebutuhan setiap wilayah kota dan kabupaten, dan kemampuan siswa untuk mendidik dirinya sendiri agar mandiri, meningkatkan kualitas kehidupannya, dan mampu bergaul dalam tataran dunia global dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Dengan demikian, materi yang dikembangkan dalam kegiatan pendidikan hendaknya mampu membekali siswa dengan berbagai kompetensi seperti diuraikan berikut ini.

  1. Materi Pembelajaran

Telaah bahasa terfokus pada dua kajian, yaitu kompetensi dan performansi. Konsep kompetensi mengacu pada pengkajian bahasa secara teoritis dan perumusan kaidah yang bersifat deskriptif, sedangkan performansi mengacu kepada aplikasi kaidah tersebut dalam kegiatan komunikasi dan bersifat preskriptif dan normatif. Kajian ihwal performansi di antaranya dilakukan dalam linguistik terapan, yaitu pendidikan bahasa.

Dewasa ini kegiatan pendidikan bahasa mengalami perubahan orientasi tujuan yang cukup berarti, sebagaimana telah dikemukakan di atas. Perubahan ini berimplikasi pada perubahan materi pembelajaran. Menurut A. Chaedar Alwasilah (2002) di antara kompetensi yang perlu dimiliki oleh pembelajar bahasa ialah kemampuan memahami budaya para penutur bahasa itu, dalam hal ini bahasa asing karena dalam kegiatan komunikasi, kemampuan linguistik saja tidaklah memadai. Pengetahuan linguistik dan kultural adalah dua hal yang berbeda. Komunikator yang baik mesti memiliki keterampilan berbahasa asing dalam konteks budayanya. Dengan kata lain, pembelajar harus diajari keterampilan berbahasa asing dengan pengetahuan dan pengalaman kulturnya.

 

Sumber : https://www.ayoksinau.com/